Jumat, 13 November 2009

SEJARAH JENGGERAN

JENGGERAN
“The Beauty Town Village”
Oleh TIM KKN PBA

A. SEJARAH
Berawal dari seseorang yang singgah dipedalaman hutan yang masyarakat biasa menyebut dengan kyai Jengger. Beliau dilahirkan dikaki gunung Sumbing (yang sekarang bernama Pager Gunung) sekitar abad ke-18 dengan nama asli Sutorso (mbah Sutorso). Sedang ayah beliau bernama kyai Ahmad Malik Hasan atau Hasan Malik.
Konon dalam sebuah legenda masyarakat Butuh Kidul, nama Jenggeran diambil dari sebuah Jengger yang ketika itu menempel (dipunyai) pada pergelangan dikaki mbah Sutorso. Oleh karena mbah Sutorso merupakan tokoh besar masyarakat Butuh Kidul yang pertama kali membangun sebuah peradaban sosio kultural di Jenggeran, maka masyarakat Butuh Kidul terutama di Jenggeran, mengabadikan namanya menjadi sebuah nama dukuh Jenggeran.

B. SILSILAH DAN KETURUNAN
























Ralat Skema:
1. Mbah Sutorso adalah saudaranya mbah Ketowongso
2. Kemudian kalau mbah Saikromo mempunyai saudara yang bernama mbah Luhung, mbah Klinem, dan mbah Gimun
3. Mbah yang di Pager Gunung itu bernama mbah Ahmad


C. TOPOGRAFI
Jenggeran terletak disebelah utara desa Bowongso dan sebelah selatannya desa Butuh, sedang sebelah timurnya berbatasan dengan gunung Sumbing dan sebelah baratnya berbatasan dengan dukuh Pager Gunung.
Menurut tinjauan georafisnya, Jenggeran termasuk dataran tinggi, dan tepat berada dibawah kaki gunung Sumbing, dengan jarak tempuh kira-kira 12 km ke Gunung Sumbing.

D. PEMERINTAHAN
Jenggeran yang masih dalam cakupan dukuh didesa Butuh Kidul baru 10 tahun menjalani pemekaran dengan desa Butuh . Hal itu dilakukan karena sebelum mengalami pemekaran, desa Butuh sangatlah luas.
Struktur kekuasaan:
a. Kepala desa
b. Kepala dusun/ Bahu
c. Bayan
d. Tamping
e. Kaum

E. MASUKNYA ISLAM
Pertama kali Islam masuk ke Butuh Kidul (Jenggeran) dibawa oleh ulama yang bernama K. Ahmad Anwar yang singgah di Cengklok, kemudian dilanjutkan oleh generasi kedua penyebar Islam, kemudian generasi ketiga yang diteruskan oleh K. Buhrodin dkk.

F. SOSIO-KULTURAL DAN SOSIO-RELIGIOUS
Biasanya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pegunungan, mempunyai sikap yang ramah, santun dan guyub . Itu pula tercermin pada masyarakat dusun Jenggeran yang mempunyai sikap sopan dan rendah diri.
Oleh karena masyarakat Jenggeran sangat patuh terhadap suatu ketaatan hukum, maka proses hukum adat istiadat setempat dapat berjalan sebagaimana yang dikehendaki oleh masyarakat. Adapula hukum itu sendiri juga diadopsi dari hukum Islam. Dan hukum Islam yang diterapkan itu benar-benar diaktualisasikan dalam sebuah tindakan nyata.

G. PENDIDIKAN
Masyarakat desa Butuh Kidul yang berada di dukuh Jenggeran sangat mengutamakan pendidikan. Itu dapat diamati dari antusias masyarakat yang ingin mengikuti pendaftaran program KKN PBA sebagai calon warga belajar. Kemudian semangat besar para pemuda untuk diberikan pengajaran dan pengalaman dari tim KKN PBA, baik pengajaran keagamaan, umum maupun tele-informatika. Lalu dari generasi-generasi masa depan (anak-anak dusun) juga mempunyai semangat belajar tinggi, hal itu tercermin dari pembelajaran kegiatan ekstrakulikuler sekolah berupa materi bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN disambut dengan begitu antusias, baik oleh ibu dan bapak guru SD maupun dari siswanya sendiri.
Namun karena perekonomian dan kesejahteraan masyarakat yang kian tidak kunjung membaik, sehingga mengaburkan paradigma masyarakat yang menganggap bahwa pendidikan di nomor sekian-kan setelah adanya jaminan ekonomi masyarakat yang menguat. Masyarakat menganggap bahwa ukuran sukses seseorang adalah materi (dapat membangun rumah, membeli kendaraan, aset-aset dsb).

H. PEREKONOMIAN
Sumber ekonomi yang didapatkan masyarakat Jenggeran sebagian besar dari hasil alam dan Agribisnis. Karena sebagian besar masyarakat Jenggeran bekerja dengan bercocok tanam (bertani) dan berladang. Adapula yang menjadi pedagang dan perantauan.

I. SUMBER DAYA ALAM (SDA) DAN HASIL ALAM
Potensi alam Jenggeran amatlah beragam. Mulai dari produksi sayur-sayuran, umbi-umbian, rempah-rempah, sampai tanaman obat-pun dapat ditemui disini.

J. PARIWISATA
Jenggeran merupakan alternatif jalan akses masuk untuk pendakian gunung Sumbing. Oleh karena itu banyak dari wisatawan lokal yang tergerak untuk ikut menikmati pesona alam Jenggeran.

SUMBER DATA
1. Pengamatan penulis
2. Wawancara kepada masyarakat
3. Wawancara kepada tokoh adat
4. Wawancara kepada keturunan generasi ke-6 dan ke-7
5. Wawancara kepada tokoh masyarakat
6. Arsip dan dokumen dari kecamatan yang terkait dengan Butuh Kidul (terutama di dusun Jenggeran)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar